Marilah kita senantiasa menjatkan puja dan puji kehadlirat Allah SWT. Karena atas limpahan taufiq, hidayah dan ma’unahNYA kepada kita semua, kita masih bisa melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.
Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.
Melalui mimbar khutbah jum’at ini perkenankan kami mengajak seluruh jama’ah shalat jum’at, agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Yaitu dengan melaksanakan apa yang diperintahkanNYA dan menjauhi apa yang dilarangNYA, dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.
معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله
Diriwayatkan dari Abdullah bin Dinar, bahwa suatu ketika dia sedang berjalan bersama Amirul Mu’minin, yaitu Khalifah Umar bin Khaththab. Kemudian mereka berpapasan dengan seorang anak laki-laki yang sedang menggembalakan sekawanan domba.
Lalu sang amirul mu`minin berkata, "Aku ingin menguji kejujuran gembala itu. Apakah ia amanah dalam pekerjaannya ataukah tidak."
Umar lantas berjalan mendekati si anak gembala. "Wahai anak gembala," kata Umar, "bagaimana kalau engkau menjual kepadaku satu ekor domba dari banyak domba yang sedang kau gembalakan ini?"
"Aku bukan pemiliknya. Aku hanya seorang budak. Tuanku-lah yang mempunyai domba-domba ini," jawab si gembala.
Umar kemudian berkata lagi, "Jika demikian, bilang saja nanti kepada tuanmu, anak domba itu berkurang satu karena dimakan serigala."
Si penggembala terdiam sejenak. Ia lama menatap wajah Amirul Mukminin, seperti keheranan. Ia lalu berkata, "Jika Anda menyuruh saya berbohong, FA AINALLAH (di mana Allah)?“ "Mungkin tuanku tidak melihat, tetapi bagaimana dengan Allah?" tutur dia lagi.
Saudaraku Jama’ah shalat jumat rahimakumullah, Umar adalah seorang khalifah, pemimpin umat yang sangat berwibawa, disegani, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, dan persendian-persendian tulangnya terasa lemah.
Umarpun menangis karena memahami makna tauhid kalimat itu bahwa Allah Maha melihat dan mengawasi. Kalimat tersebut mengingatkannya akan tanggung jawabnya kelak di Hari Kiamat sebagai seorang pemimpin.
.
Umar kemudian menemui majikan si anak gembala itu. Akhirnya, sahabat Nabi SAW berjulukan al-Faruq itu membeli lalu membebaskan si bocah dari status budak.
Kemudian Khalifah Umar berkata lagi kepada si anak penggembala domba itu, “Ucapanmu itu telah membuatmu terbebas di dunia ini dan insyaAlllah akan membuatmu bebas pula di akhirat.”
Demikianlah, sikap amanah anak kecil tadi membebaskannya dari belenggu perbudakan sekaligus memberi pelajaran hikmah bagi sang pemimpin!
معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله
Di antara nama Allah Jalla wa ‘Ala adalah Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi). Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
[Quran An-Nisa: 1].
Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengawasi dan mengetahui segala sesuatu yang ada di hati manusia. Dia memberi balasan dari setiap apa yang diusahakan manusia. Di Yang Maha Menjaga yang tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya. Dia tahu semua keadaan makhluk-makhluk-Nya. Melihat keadaan mereka dan menghitung amal perbuatan mereka.
Ketika seseorang merasa diawasi dan dilihat Allah, pasti ia akan malu kepada penciptan-Nya, mengagungkan-Nya, takut, cinta, tunduk, dan merendahkan diri kepada-Nya.
“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya.” [Quran Al-Baqarah: 235].
Ma’asyiral muslimin,
Sikap merasa diawasi Allah (muroqobatullah) Jalla wa A’la akan membuat seseorang hamba bermuhasabah. Ia akan menghitung-hitung dirinya dengan amal perbuatannya.
Semoga kisah umar dan penggembala tadi, dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Quran Al-Hasyr: 18].
Puja dan puji syukur ke hadhirat Allah SWT. Berkat, taufiq, hidayah dan rahmat-NYA pada kesempatan yang mulia dan bahagia ini kita semua bisa melaksanakan ibadah shalat jum’at secara berjama’ah tanpa halangan suatu apapun, Sholawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada junjungan dan tauladan kita Nabi besar Muhammad SAW.
Melalui mimbar khutbah jum’at ini perkenankan kami mengajak seluruh jama’ah shalat jum’at, agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Yaitu dengan melaksanakan apa yang diperintahkanNYA dan menjauhi apa yang dilarangNYA, dengan keikhlasan dan kesabaran.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda:
Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang berdo’a baginya. (HR. Muslim)
Ketika anak adam telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya, dengan pengertian bahwa yang bersangkutan tidak bisa lagi memperoleh pahala yang diusahakannya sendiri, hadits ini memberikan motivasi dalam dua hal.
Pertama, bagi kita semua yang masih hidup agar dapat memanfaatkan waktu hidup ini dengan semaksimal mungkin untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT.
Kedua, rajin mendo’akan orang tua, guru, keluarga, kerabat dan saudara seiman kita yang telah terlebih dahulu meninggal dunia.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Ada 3 (tiga) amal yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal dunia. Pertama, shadaqah jariyah, pahalanya akan terus mengalir sepanjang manfaat dari shadaqah jariyahnya terus berlangsung meskipun orang yang bershadaqah sudah meninggal dunia. Contoh, seseorang ketika di masa hidupnya telah berwakaf atau berinfaq terhadap sebuah bangunan masjid, mushalla, pondok pesantren dll., baik berupa materi, tenaga maupun pemikiran, baik keseluruhan atau sebagian saja, selama bangunan itu masih digunakan untuk kegiatan ibadah, maka selama itu pula pahala akan terus mengalir kepada yang berwakaf atau yang berinfaq meski telah meninggal dunia.
Kedua, ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dapat membimbing dirinya sendiri dan orang lain menuju kepada kebaikan dalam rangka mendapatkan ridlo Allah SWT. Juga ilmu yang dapat memecahkan persoalan pribadinya, keluarganya, masyarakat dan lingkungannya dalam rangka menjalankan amanah sebagai pemimpin dimuka bumi. Rasulullah SAW bersabda :
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya
(HR. Bukhari)
Ketiga, anak shalih yang mendoakan orang tua, guru, keluarga, dan saudara seimannya yang sudah meninggal dunia agar senantiasa mendapatkan ampunan dan pertolongan dari Allah SWT.
Yaa Allah Ya Tuhan kami ampunilah kami dan kedua orang tua kami dan kasih sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka mengasuh kami di waktu kecil.
Marilah kita senantiasa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadikan hidup dan mati, untuk menguji hamba-hamba-Nya sehingga terbedakan siapa yang paling baik amalannya di antara mereka. Begitu pula kita memuji Allah, Rabb yang menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dan memuliakan hamba-hamba-Nya yang menaati-Nya.
Sungguh berbahagia orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Dan sungguh merugilah orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang mulia, sayyidina Muhammad ibn ‘Abdillah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya.
Hadirin Jama’ah Sholat Jumat rahimakumullah,
Kehidupan dunia ini ibarat tempat penyeberangan yang sedang dilalui oleh orang-orang yang hidup di dalamnya. Setiap orang akan melewati dan meninggalkannya, lalu menuju kehidupan yang sesungguhnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dunia ini sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan amalan. Maka setiap orang yang beramal, dia akan melihat balasannya. Dan orang yang lalai akan menyesali perbuatannya.
Setiap orang yang menjalani kehidupan dunia ini akan ada saat berakhirnya.
Hari pembalasan pasti akan datang, dan apa saja yang akan datang adalah sesuatu yang dekat. Maka, janganlah kita tertipu dengan gemerlapnya kehidupan dunia yang sementara ini, sehingga melalaikan dari kehidupan yang sesungguhnya di akhirat nanti.
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Ingatlah, bahwa kematian adalah suatu kepastian yang akan menimpa seseorang. Kematian akan memisahkan dirinya dari keluarga, harta, serta tempat tinggalnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan melalui firman-Nya, bahwa di antara manusia ada yang akan mendapatkan pertolongan dan mendapatkan kabar gembira pada saat kematiannya, serta ada pula yang merasakan ketakutan yang luar biasa.
“Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih dan berbahagialah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian.’ Kami adalah penolong-penolong kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalam (surga) kalian akan memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta.” (Fushshilat: 30-31)
Sungguh, kita semua tentu mengharapkan kabar gembira di saat malaikat maut hendak mencabut nyawa kita. Karena dengan itu seseorang akan mengawali kehidupan bahagia di alam akhiratnya. Dimulai dengan kenikmatan di alam kuburnya dan kemudahan-kemudahan yang akan terus dialami pada kehidupan akhiratnya.
Keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan ini akan dirasakan oleh orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga menerima dan menjalankan syariat-Nya.
Yaitu orang-orang yang senantiasa ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan mengikuti jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama yang mengikuti jejaknya.
Adapun orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga beribadah kepada selain-Nya dan menyelisihi jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta jalan para ulama yang mengikutinya, maka dia akan merasakan siksa yang sangat pedih. Dimulai dari saat kematiannya dan begitu pula ketika berada di alam kuburnya serta kejadian-kejadian berikutnya.
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Kehidupan dunia ini akan berakhir dan akan datang saatnya hari kebangkitan. Seluruh manusia, sejak yang pertama kali diciptakan hingga yang terakhir kali diciptakan akan dibangkitkan dari alam kuburnya, serta akan dikumpulkan di padang mahsyar.
Selanjutnya, kehidupan akhirat akan berujung pada dua tempat tinggal yang sesungguhnya, yaitu surga atau neraka. Maka di antara manusia, yang menjadi penduduk surga akan dikatakan kepada mereka:
“Makan dan minumlah kalian dengan penuh kesenangan disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (saat di dunia).” (Al-Haqqah: 24)
Sementara yang lainnya akan menjadi penduduk neraka. Dengan penuh penyesalan mereka berkata,
“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, dan aku sungguh dahulu termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” (Az-Zumar: 56)
Akhirnya, marilah kita berlomba-lomba dalam beramal shalih dalam kehidupan yang singkat ini. Janganlah kita menjadi orang yang memiliki sifat sombong sehingga menolak kebenaran yang datang kepada kita.
Dan jangan pula, kita menjadi orang-orang yang mendahulukan dunia dan mengikuti hawa nafsunya.
Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (An-Nazi’at: 37-41)
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at yang Dirahmati Allah!
Sudah kita maklumi bersama bahwasanya tidaklah Allah mengutus seorang rasul kecuali Dia memerintahkan rasul tersebut agar mengajak kaumnya kepada tauhid, yakni memurnikan ibadah dan penyembahan hanya kepada Allah semata. Perintah untuk bertauhid ini secara otomatis mengandung konsekuensi logis berupa larangan keras dari berbuat syirik atau menyekutukan Allah dengan selainNya. Oleh karena itu hadirin sekalian, seluruh ulama sepa-kat bahwa tidak ada amalan yang paling utama melebihi tauhid dan tidak ada dosa paling besar yang melebihi syirik.
Syirik merupakan dosa terbesar di antara dosa-dosa besar, merupakan amal perbuatan yang terburuk, kezhaliman yang paling besar, dan syirik akbar yang akan menjadi sebab hancurnya seluruh amalan seseorang. Begitu banyak ayat-ayat dalam al-Qur`an yang menggambarkan kepada kita tentang buruknya perilaku syirik ini. Di antaranya adalah ayat yang menjelaskan kepada kita bahwa syirik merupakan dosa yang tidak terampuni, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata'ala :
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya." (An-Nisa`: 48).
Lalu Allah juga menjelaskan kepada kita semua, bahwa orang yang berbuat syirik berarti dia berada dalam kesesatan yang sangat jauh. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :
"Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (An-Nisa`: 116).
Dan yang lebih mengerikan lagi, hadirin sekalian! Allah Subhanahu Wata'ala telah memvonis haram masuk surga bagi para pelaku kesyirikan. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (Al-Ma`idah: 72).
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Setelah kita memperhatikan penjelasan ayat-ayat di atas, maka sepantasnyalah kita semua selalu waspada dan berhati-hati dari perbuatan syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil. Syirik besar insya Allah mayoritas kita kaum Muslimin sudah maklum, seperti meminta dan berdoa kepada selain Allah, meyakini ada pencipta dan pemelihara alam selain Allah, berkeyakinan bahwa selain Allah ada yang berhak diibadahi, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Namun jama'ah sekalian, syirik kecil terkadang lepas dari perhatian kita, atau minimalnya kita kurang memberikan perhatian sesuai dengan porsinya dalam masalah ini. Sehingga kalau kita mengamati di sekeliling kita, ternyata masih ada saja sebagian saudara-saudara kita kaum Muslimin yang terjebak dalam syirik kecil tanpa mereka sadari. Padahal syirik kecil ini merupakan salah satu hal yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam dan dapat menjadi wasilah atau perantara kepada syirik besar.
Jama'ah yang dirahmati Allah!
Walaupun syirik kecil ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam dan tidak menyebabkan kekal di neraka, tetapi ia merupakan kaba`ir atau dosa besar. Penamaan sebagai syirik kecil di sini hanyalah untuk membedakan jenis syirik saja, bukan merupakan penggolongan sebagai dosa kecil. Jadi sekali lagi perlu kita perhatikan dan kita tekankan melalui mimbar ini, bahwa syirik kecil adalah termasuk salah satu dosa besar, bukan dosa kecil. Al-Imam adz-Dzahabi rahimhullah di dalam kitabnya al-Kaba`ir telah menghimpun kurang lebih 70 an jenis dosa besar. Dan beliau telah menempatkan syirik di dalam kitab tersebut pada urutan yang pertama, dan masuk di dalamnya adalah syirik kecil. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi kita semua untuk bodoh dari syirik kecil ini, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberikan perhatian terhadap masalah ini.
Selanjutnya Ma'asyiral Muslimin! Melalui mimbar ini khatib akan menyebutkan beberapa contoh syirik kecil yang mungkin masih banyak terjadi di tengah-tengah kita. Dengan harapan agar menjadi tambahan ilmu bagi kita yang belum mengetahui, akan menjadi pengingat bagi kita yang lupa, dan memperkuat ingatan bagi kita yang telah mengetahuinya.
Di antara contoh bentuk syirik kecil adalah riya` dalam beribadah, yaitu seseorang melakukan suatu ibadah atau bentuk pendekatan diri kepada Allah namun di samping itu dia bertujuan agar dilihat atau dipuji oleh sesama manusia. Ini merupakan bentuk syirik yang tersembuyi (syirik khafi) yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam menimpa para sahabat beliau. Bila para sahabat masih dikhawatirkan akan tertimpa hal ini, maka bagaimanakah lagi dengan kita semua yang sangat jauh keimanannya dibandingkan mereka. Sungguh kita harus sangat lebih takut jika hal ini menimpa kita semua. Di antara caranya adalah dengan banyak berlindung kepada Allah dari syirik, baik syirik yang kita ketahui maupun yang tidak kita sadari. Lalu kita harus senantiasa memperbaiki niat dan keikhlasan kita dalam setiap amal perbuatan yang kita lakukan, kita sadari penuh bahwa hanya Allah-lah yang paling berhak mendapatkan segala bentuk peribadatan, sedangkan manusia sama sekali tidak berhak, mereka semua sama sebagai hamba di hadapan Allah, maka janganlah sekali-kali kita mencari muka dan pujian di hadapan manusia dalam ibadah yang kita lakukan.
Di antara bentuk syirik kecil yang lain adalah bersumpah dengan menyebut selain Allah. Berkenaan dengan ini, maka telah terdapat hadits Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam yang sangat jelas memberitahukan kepada kita bahwa hal itu termasuk kekufuran atau kesyirikan. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :
مَنْ حَلَفَ بِغَيِر الله فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ.
"Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau telah syirik." (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Contoh lain dari syirik kecil adalah tathayyur, yaitu merasa sial atau naas karena melihat jenis burung tertentu, dan termasuk juga binatang lain secara umum, merasa sial dengan angka tertentu, hari dan tanggal tertentu, dan lain sebagainya. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam telah bersabda, dari Ibnu Mas'ud secara marfu' :
اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلَّا, ولكن الله عَزَّ وَجَلَّ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.
"Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik. Dan tidak ada seorang pun dari kita, kecuali (terbersit dalam dirinya sesuatu dari hal itu), akan tetapi Allah ‘'Azza Wajalla menghilangkannya dengan tawakal." (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan ia menyatakan shahih dan menjadikan perkataan yang akhir adalah perkataan Ibnu Mas'ud).
Demikian juga Ma'asyiral Muslimin, termasuk syirik kecil yaitu memakaikan gelang dari benang dan lainnya kepada anak-anak dengan tujuan untuk menolak bahaya atau bala, memakai dan menggantungkan jimat tertentu untuk mencegah pengaruh ain, untuk mendatangkan keberuntungan dan yang semisal dengan ini semua. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah karena mengotori tawakal kita, mencemari tauhid kita kepada Allah. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam telah bersabda tentang orang yang memakai jimat :
مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ.
"Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka dia telah syirik." (HR. Ahmad, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 492) .
Semoga Allah melindungi dan menjauhkan kita semua dari segala bentuk kesyirikan, syirik yang besar maupun yang kecil, syirik yang terang maupun yang tersembunyi. Amin ya Rabbal 'alamin. Barakallahu li wa lakum.
Bersyukur kepada Allah atas segala nikmatNya, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada UtusanNya, baginda Nabi Muhammad Shalalahu’alaihi wasallam. Dalam kesempatan ini khatib mengajak untuk sama-sama kita tingkatkan taqwa agar di akhirat kita bisa meraih hidup yang mulia.
Jama’ah shalat jumat rahimakumullah,
Pemimpin merupakan harapan bagi setiap yang dipimpinnya agar dapat mengemban amanah yang dititipkan kepadanya. Pemimpin yang amanah akan membawa kepada kebaikan bagi ummat dalam segala hal. Sebab ia mengerti betul akan tanggung jawabnya kepada Allah SWT. Maka mengenali kriteria pemimpin yang amanah adalah satu hal yang penting untuk kita ketahui.
Mengapa pemimpin harus Amanah? Karena amanah yang bermakna dapat dipercaya/ jujur, adalah salah satu diantara empat sifat Nabi dan Rasul disamping Shiddiq (benar), Fathanah (cerdas) dan Tabligh (menyampaikan kepada umat). Lebih dari itu, sifat amanah adalah perintah Allah SWT untuk dijalankan setiap manusia terlebih para pemimpin.
Di dalam al-Quran, Surat Al-Nisa : 58, Allah Ta’ala berfirman :
Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-
baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sunggguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.(Q.S. An Nisa : 58)
Sidang jumat rahimakumullah,
Maka sangat perlu bagi kita untuk memiliki sifat amanah dan memilih pemimpin-pemimpin yang amanah diantara kita agar dia mampu menghadirkan kebaikan-kebaikan bagi rakyatnya atas izin Allah.
Lalu bagaimanakah kita mengenali pemimpin yang amanah itu? Rasulullah Shalalahu’alaihi wasallam telah memberikan penjelasan kepada kita bagaimana mengetahui ciri atau kriteria pemimpin yang amanah itu. Diantara ciri pemimpin yang amanah adalah
1. Tidak terlalu berambisi menduduki jabatan itu, apalagi sampai menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan atau jabatan.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shalalahu’alaihi wasallam :
قال أَبُو مُوسَى: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِىِّ (صلى الله عليه وسلم) أَنَا وَرَجُلانِ مِنْ قَوْمِى، فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ: أَمِّرْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَهُ، فَقَالَ: إِنَّا لا نُوَلِّى هَذَا مَنْ سَأَلَهُ، وَلا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ (رواه البخاري)
Abu Musa berkata: Suatu ketika aku menghadap Nabi Saw bersama dua orang dari kaumku. Salah satu dari mereka berkata: “Wahai Rasul, angkatlah aku jadi pemimpin.” Dan seorang lagi juga mengatakan hal yang sama. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh kami tidak akan menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang
memintanya, dan tidak pula kepada yang berambisi untuk meraihnya. (HR. Bukhari)
Dari hadits ini, kita bisa mendapat sebuah keterangan bahwasanya memilih pemimpin (memberikan amanah) kepada orang yang memintanya (mengajukan diri), tidaklah diperkenankan, apalagi kepada seseorang yang sangat berambisi sehingga menggunakan segala cara untuk menjadikan dirinya seorang pemimpin, sampai ia harus menyuap dan sebagainya. Sosok pemimpin yang seperti ini jelas akan sulit untuk berlaku amanah nantinya.
Pemimpin yang memperoleh sebuah jabatan dengan cara-cara yang curang, sulit untuk diharapkan akan dapat berjuang untuk kesejahteraan rakyatnya. Ia justru akan sibuk memperkaya diri, mementingkan kelompoknya, mengembalikan modal, dan mengupayakan segala cara untuk mempertahankan jabatannya.
2. Taat ibadah, memiliki kemampuan, dan mempunyai hubungan sosial yang baik dengan masyarakat.
Teladan seperti ini dapat kita cari dari sepenggal kisah Umar bin Khattab, yaitu ketika ia menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar. Di suatu kesempatan, Umar bin Khattab mengangkat Nafi’ Bin al-Harits sebagai gubernur Mekah. Sebagai gubernur, Nafi’ memilih Ibnu Abza untuk menjadi pemimpin di suatu daerah lembah di dekat Mekah. Sementara semua orang tahu bahwa Ibnu Abza bukanlah dari suku yang terhormat, Ia hanyalah bekas budak di komunitas tersebut.
Saat Umar bin Khattab mengonfirmasi hal tersebut, Nafi’ Bin al-Harits menjawab, “Ia memang bekas budak, tetapi ia hafal Alquran, paham masalah waris (faraidh), dan dapat memutuskan persoalan masyarakat dengan adil.” Atas keputusan Nafi’, Umar bin Khattab pun memujinya karena melihat kapabilitas dan keadilannya. Kisah ini dapat ditemukan dalam Musnad Imam Ahmad.
3. Takut kepada Allah
Seorang yang takut kepada Allah dia akan terlihat banyak beribadah, sering ke masjid, sering bersedekah, rendah hati namun menjadi pembela ketika agamanya dihina. Ketika dia menjadi pemimpin dia tidak suka berbuat curang tidak pula suka menipu, sebab dia merasa takut dengan Ancaman Allah.
Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allâh untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allâh mengharamkan surga atasnya. (H.R. Muslim)
Itulah beberapa kriteria pemimpin amanah yang perlu kita ketahui agar kita dapat menjadi pemimpin ataupun memilih pemimpin yang amanah sesuai dengan kriteria Rasulullah saw. Wallahu A’lam.
Mari kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmatNya. Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Baginda Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatNya. Dan mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Setiap mukmin tentulah menginginkan agar dirinya menjadi orang yang bahagia di dunia terlebih di akhirat, bersama-sama dengan keluarganya. Alangkah ruginya ketika kita berusaha mengejar kebahagiaan dunia, namun ternyata celaka di Akhirat. Allah Ta’ala berfirman Surat At-Tahrim Ayat 6 :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. Tahrim Ayat 6)
Lantas dengan apa dan bagaimana seseorang melindungi diri dan keluarganya dari api neraka?
Hadirin, jamaah shalat jumat rahimakumullah,
Di antara kiat melindungi diri dan keluarga kita dari siksa neraka adalah
1.Bekali Keluarga dengan Ilmu
Ilmu merupakan perkara yang sangat penting dan dipentingkan oleh Islam. Ia merupakan poros dan asas kebaikan. Dengan ilmu seseorang mengenali kebaikan yang mengantarkan ke surga dan dapat membedakannya dengan keburukan yang menjerumuskan ke neraka. Dengan ilmu pula seorang Muslim dapat mengetahui tugas dan kewajibannya kepada Allah.
Singkatnya, ilmu adalah bekal sekaligus panduan dalam mengarungi kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Bahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Dimudahkan masuk surga mengandung makna dijauhkan dari neraka.
Dalam Islam mencari ilmu hukumnya wajib, sebagaimana diterangkan oleh banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya sebuah hadits yang diriwatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Mencari ilmu hukumnya fardhu (wajib) bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah).
Oleh karena itu dalam ajaran Islam kewajiban seorang kepala keluarga dalam rangka membimbing keluarganya menggapai ridha Allah, selamat dari neraka adalah dengan mengajarkan ilmu kepada mereka. Paling tidak seorang Muslim belajar Ilmu fardhu ‘ain dan mengajarkannya kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya, yakni anak dan istrinya.
2.Didik Mereka Menjadi Pribadi Yang Beradab
Diatara penyebab berbagai masalah dunia Islam saat ini adalah problem ilmu dan ketiadaan adab. Maka solusi mendasar bagi persoalan ummat Islam saat ini adalah pendidikan berbasis adab. Ini penting menjadi perhatian, mengingat pendidikan formal saat ini telah kehilangan ruh adab. Berbagai kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak muda dan pelajar merupakan salah satu bukti, lembaga pendidikan formal hampir gagal menanamkan adab kepada para peserta didik. Oleh karena itu dibutuhkan pendidikan berbasis adab yang bermula dari pendidikan keluarga. Karena memang pada asalnya tanggung jawab utama dan pertama pendidikan (ta’lim dan ta’dib) terhadap anak adalah para orang tua.
3.Ajak Keluarga Melakukan Ketaatan
Upaya selanjutnya dalam rangka melindungi diri dan keluarga dari api neraka adalah senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan maksiat.
Ketaatan pertama yang harus menjadi perhatian seorang Muslim dalam mendidik keluarganya adalah tauhid dan shalat. Sebab tauhid merupakan kebaikan yang paling baik. Karena kebaikan dan ibadah yang dikerjakan seorang hamba harus tegak di atas tauhid. Tauhid merupakan kunci syurga dan jalan keselamatan dari neraka. Bahkan tauhid merupakan tujuan hidup manusia di dunia ini. Oleh karena itu seluruh nabi dan Rasul diutus oleh Allah untuk mengajak manusia mentauhidkan Allah Ta’ala.
Sedangkan shalat merupakan tiang agama dan rukun Islam yang kedua. Betapa pentingnya shalat, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita untuk menyuruh anak kita melakukan shalat bila telah berusia 7 tahun, memukulnya apabila telah berusia sepuluh tahun dia belum mengerjakan sholat. Ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anaknya mendirikan shalat.
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya”. (QS. Thaha:132).
4.Larang Keluarga Kita Melakukan Maksiat
Selain ilmu, adab, dan perintah melakukan ketaatan, upaya melindungi dan membentengi diri dan keluarga dari api neraka hendaknya dilakukan pula dengan melarang mereka dari berbuat maksiat.
Maksiat pertama yang harus dihindarkan dari keluarga kita adalah syirik. Sebab syirik merupakan dosa yang akan menyebabkan pelakunya kekal dalam neraka. Orang yang melakukan kesyirikan dan meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa syirik, maka dosanya tidak diampuni dan ia kekal dalam neraka, sebagaimana firman Allah,
“Sesungguhnya orang yang berbuat syirik maka Allah haramkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada bagi orang-oranag dzalim itu penolong sedikitpun”. (terj. Qs. Al-Maidah:72).
Selanjutnya maksiat yang harus dijauhkan oleh seorang Muslim dari keluarganya adalah dosa-dosa besar, lalu kemudian dosa-dosa kecil dan perilaku tercela lainnya. Dan hendaknya seorang Muslim tidak meremehkan perbuatan dosa, sekecil apapun dosa tersebut. Karena setiap dosa mengundang kemurkaan Allah Ta’ala.
5.Bimbing Keluarga Untuk Selalu Ingat Kepada Allah dan Berdzikir Kepada-Nya
Dalam banyak haditsnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan fadhilah (keutamaan) dan kedudukan dzikir. Diantaranya sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa dzikir merupakan sebaik-baik amalan, paling suci di sisi Allah, mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah, dan lebih baik dari menginfakkan emas, dan perak, dan lebih baik dari bertemu dan berperang melawan musuh. Dalam hadits lain Nabi mempermisalkan orang berdzikir seperti orang hidup dan orang yang tidak berdzikir seperti orang mati.
Selain itu ibadah dzikir juga memiliki banyak manfaat, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Oleh karena itu sepantasnya seorang Muslim khususnya kepala keluarga menganjurkan keluaganya; anak dan istrinya untuk memperbanyak dzikir kepada Allah. Hal ini termasuk salah satu langkah seseorang menghindarkan keluarganya dari neraka.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Akhirnya Berpulang Pada Ilmu, Keteladanan, dan Do’a
Langkah dan upaya menjaga diri dan keluarga dari neraka seperti dijelaskan di depan tidak akan berjalan dengan maksimal tanpa taufiq Allah, bekal ilmu, dan keteladanan dari orang tuanya. Dan setelah menempuh usaha-usaha di atas, dengan memperbanyak ilmu yang tegak di atas ilmu seseorang hendaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala melalui do’a. Wallahu a’lam bish Shawab.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan rahmat yang telah Allah karuniakan kepada kita sehingga hari ini kita masih dipertemukan dalam keadaan sehat dalam rangka menjalankan salah satu kewajiban kita yaitu shalat jumat berjamaah. Shalawat dan salam semoga Alah curahkan kepada junjungan dan tauladan kita nabiyullah Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam.
Sidang Jumat Rahimakumullah
Di dalam Alquran Surat Al Hujarat : 10 Allah SWT berfirman
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Ayat ini memberikan penegasan bahwasanya setiap mukmin wajib untuk menjaga ukhuwwah, menjaga persaudaraan dan persatuan diantara sesama mukmin dalam bingkai Islam. Rasullullah SAW menggambarkan persatuan diantara orang-orang yang beriman ibarat sebuah bangunan.
“Orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan (H.R. Bukari dan Muslim).”
Maka, tidak pantas seorang muslim memusuhi saudaranya seiman, karena Islam telah mengajarkan bahwa orang-orang beriman adalah saudara. Penghambaan diri kepada Allah seharusnya membuat hati-hati orang yang beriman saling terpaut satu sama lain apapun suku dan bangsanya.
Sidang Jumat Rahimakumullah
Akhir-akhir ini isu-isu negatif tentang Islam sangat gencar dimuat oleh banyak media, baik media elektronik, media sosial, atau media massa. Isu yang dibangun adalah bahwa umat Islam tidak toleran dengan umat lain, Islam adalah agama yang mengajarkan radikalisme, bahkan seringkali tindak terorisme dikaitkan dengan Islam. Islam tidak menghargai hak asasi manusia, dan lain sebagainya. Mereka seolah ingin membangun narasi bahwa Islam adalah gangguan, sehingga patut dijadikan sebagai musuh bersama. Saudaraku sekalian, inilah zaman fitnah, zaman yang penuh dengan kekacauan.
Belum lagi stigma negatif yang disudutkan kepada umat Islam, perpecahan ditubuh umat islampun kini kian banyak terjadi. Akibat perbedaan pehaman, antara yang satu dengan yang lainnya saling berbantah-bantahan, saling menghujat, dsb sehingga kondisi ini dikhawatirkan bisa meruntuhkan bangunan ukhuwah yang selama ini kita bangun diatas pondasi iman.
Saudaraku yang dirahmati Allah, umat Islam haruslah cerdas dalam menghadapi hal seperti ini. Kita harus mengedepankan sikap tasamuh (saling toleransi) dan tafahum (saling memahami) atas perbedaan faham yang ada. Jangan sampai mau di adu domba oleh pihak-pihak yang tidak senang bila umat Islam bersatu dan saling bekerja sama.
Keyakinan yang sama akan tauhid laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah) dan Muhammad rasulullah inilah yang menjadi pondasi kita dalam merajut dan menguatkan tali ukhuwah. Islam akan bangkit jika kita bersatu dan membangun negeri ini bersama-sama. Jangan karena perbedaan kita menjadi berpecah-belah. Kita punya prinsip hidup yang sama sesuai dengan pedoman al-Quran dan sunnah. Perlu kita ingat selalu, bahwa orang beriman itu adalah saudara. Perbedaan paham tidak bisa menjadi alasan untuk saling membenci, perbedaan ada untuk saling dihargai dan saling dihormati satu dengan yang lainnya. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita agar senantiasa bersatu diatas jalannya.
Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah, Allah ta’ala memberikan perintah kepada kita agar senantiasa berpegang teguh kepada tali agama Allah dan jangan bercerai-berai.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. ( Q.S. Ali Imran 103)
Pada khutbah kedua ini marilah kita berdo’a kepada Allah SWT agar umat Islam di Indonesia tidak mudah di adu domba dan terpecah belah juga marilah kita berdoa kepada Allah SWT mudah-mudahan kita mendapatkan kemuliaan dari-Nya, mendapatkan naungan-Nya pada hari kiamat kelak, meraih manisnya iman dan mendapatkan kesempurnaan iman dan masuk kedalam surga-Nya. Aamiin.